Pelintiran Hati di Bawah Layar yang Terkembang

Terkadang aku takut tidur di malam hari

Takut esok Laut masih lagi hitam dan putih

dan camar laut tak menemukan pijakan.

 

Bertahun Matahari tidak terbit di sini, Kawan,

sampai-sampai aku lupa siapa dia.

Atau mungkin aku belum pernah mengenalnya?

 

Di malam hari aku juga tak berani membuat api

“Kapalku hanyalah kapal kayu biasa,” pikirku

Maka kuambil secarik kertas dan melipatnya

membentuknya menjadi api kertas besar

 

Oh, yang akan terus kuingat!

Bahwa yang membakar bukanlah api,

melainkan kepalsuan yang lembab.

Delapan belas ikan di bawahku tertawa

 

Ternyata api tak pernah mau membakar kapal

Dengan tulus diambilnya kursi

lalu bercerita tentang Hidup

dan ikut menertawakannya

Api yang membasahi jiwa, menyegarkan

 

Tidak ada yang lebih indah dari tawa itu; tidak ada.

Selamanya aku dapat tidur tenang di malam hari

Kini Bumiku merah dan hijau dan biru

 

Akan kuantar kau ke pelabuhan dengan pelukan seribu tahunku

“Berlayarlah, Sayang!”

Kepakan indah sayapmu

mengairi sesiapa yang terkunjungi.

 

Dan sementara waktu aku pergi

Mencari mesin pintar dan padi perak

Semua yang terjadi, semua yang akan terjadi

 

Hidup kurayakan, Maut kusambut

Aku sudah bisa tidur nyenyak

Hingga pagi nanti kita terbangun,

kuharap sekitar tak lagi lembab

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s