Seorang Kakak yang Baik Telah Menikah Dengan Baik

“Juk, kita udah kayak Secret Service belum?” tanyaku kepada adikku yang dari tadi tampak sibuk memperhatikan suatu keramaian di kejauhan.

“Tinggal kurang earpiece sama kacamata hitam aja, Bang.” jawabnya, dengan level kehebohan yang sama denganku. Sejak 30 menit yang lalu banyak orang lalu-lalang di kejauhan tersebut, sehingga wajarlah kalau kami yang berada di dalam mobil ini merasa seperti dua orang Secret Service yang sedang on duty mengamankan sebuah acara yang sangat penting. Sehingga wajarlah kalau kami merasa heboh.

Kakak kami menikah. Itulah penyebab kami merasa heboh di pagi hari tanggal 15 Agustus 2015. Mungkin belum pernah ada event sepenting ini dalam agenda keluarga Sitinjak dalam 5 tahun ke belakang, dan mungkin tidak juga dalam 1-2 tahun ke depan. Jadi kami berdua pun ‘merasa ditugasi’ untuk memastikan keseluruhan rangkaian acara berjalan dengan baik.

Setelah ikut serta dari awal sampai akhir pemberkatan, baru kali ini saya menyadari bahwa pernikahan itu ternyata sesakral itu. Entah apa yang diucapkan oleh sang pendeta dan entah apa yang dinyanyikan oleh grup paduan suara, tetapi semuanya itu terasa baik. Kata ‘baik’ saja sepertinya kurang tepat untuk menggambarkannya—mungkin lebih mengena kalau saya pinjam satu frase bahasa Inggris: divinely good.

Divinasi di pagi hari itu adalah divinasi yang kesakralannya sudah berkurang dalam peradaban modern—kata seorang kawan. Mungkin dia ada benarnya, jadi jangan heran kalau saya yang terombang-ambing dalam modernisme ini awalnya tidak merasakan sakralnya pemberkatan itu. Tanpa bermaksud ofensif, saya mengaku dosa bahwa saya pernah tidak yakin kalau pernikahan itu adalah pilihan yang rasional.

Iya lah, untuk apa menikah? Kalau hanya untuk kepuasan seksual, ada banyak alternatif yang lebih mudah dan murah. Kalau hanya untuk kebahagiaan, sepertinya cukup banyak contoh di luar sana yang menyangkal kebenaran argumen ini.

Tetapi pada pagi hari itu kasih lantang berbicara, mengklaim dirinya sebagai alasan utama untuk menikah. Bukan, bukan kasih antara manusia dengan manusia. Walaupun kakak saya mengasihi suaminya dan suaminya mengasihi dia, tapi bukan ini tipe kasih yang paling nyaring berbicara. Kasih yang paling lantang berbicara ialah kasih yang diistilahkan sebagai ‘Charity’ oleh C. S. Lewis, yaitu kasih Tuhan kepada ciptaan-Nya.

Nyaring terdengar melebihi bunyi lonceng di pagi itu bahwa Tuhan telah memanggil dan mempertemukan dan menyatukan dua jiwa ini karena ada tujuan baik yang ingin dicapai-Nya untuk ciptaan-Nya. Tujuan apa itu, saya tidak tahu sedikit pun. Saya—dan adik saya—hanya bisa berdoa di tengah hujan meteor Perseid bulan Agustus ini semoga tujuan itu terjadi, di Bumi seperti di Surga. Amin.

Advertisements

4 comments

  1. eky

    Ga nyangka ternyata lo aktif nulis di keadaan kek gini van.. hahaha.. btw kapan waktu nulisnya van. Kapan2 ajarin gw dong. Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s