Resep, Euy! — Sebuah Rangkuman Perjalanan Mencari Damai di Mahameru

Tepat dua tahun yang lalu saya membuat tulisan ini di Facebook saya, dan mendapat respon positif dari pembacanya (walaupun kata “positif” di sini agak subjektif). Dalam rangka mengusahakan produktifitas di tengah-tengah kegabutan yang sedang saya alami ini, maka saya akan menulis ulang—ralat: menyalin, apa yang ada dalam tulisan itu. Untuk kalian yang sok sibuk, ini executive summary-nya: saya naik gunung, terus turun lagi.

Oke saya ga tau harus mulai dari mana, tapi yaudah lah ya.

Jadi ceritanya gini. Saya baru pulang nonton bola, jam 5 pagi, naik motor sendirian di jalan depan Kebon Binatang. Jalanan sepi dan gelap. Terus entah kenapa males ngoper dari gear 2 ke gear 3, jadinya motor berjalan pelan-pelan saja. Ga penting, maaf.

Teringat satu minggu yang lalu, tepat di detik ini, saya sedang berada di titik tertinggi di Pulau Jawa. Mungkin perlu saya beberkan dulu motivasi saya ikutan perjalanan kali ini. Saya ingin mencapai di puncak paling tinggi di Pulau Jawa. Saya tidak ingin melihat Ranu Kumbolo yang terkenal itu atau awan-awan yang menggantung. Saya sudah baca novel 5 cm dari jaman SMA, saya kurang suka, bahasanya hiperbolik. Dalam bayangan saya pasti Semeru nggak segitu indahnya seperti yang digambarkan di buku itu. Jadi tujuan saya murni cuma menaklukkan pulau ini dengan berdiri di titik tertingginya. Siapa berani melawan orang tertinggi?

Setelah dipersiapkan selama berminggu-minggu, akhirnya petualangan dimulai. Kamis, 14 Juni 2012, setengah tiga sore, 15 manusia muda berangkat dari Kampus Ganesha menuju Stasiun Bandung dengan dua angkot Sadang Serang-Caringin carteran. Sampai di stasiun, langsung berjalan menuju gerbong 1 ekonomi KA Malabar. Di titik ini carrier masih terasa ringan.

Tapi dimulai dari titik itu bermunculan banyak hal baru yang tidak akan muncul kalau saya memilih untuk menghabiskan liburan akhir semester ini dengan main FM di kosan atau nonton Euro di himpunan. Mulai dari Satpam Hastari sampai “barang sengketa”, akhirnya para pendaki edan ini sampai juga di Kota Malang. Di Tumpang, kami menyewa satu jeep untuk sampai ke Ranu Pane. Ya, cuma satu untuk 15 orang plus Mas Yudhi. Gila memang. Biarpun seru, tapi tolong jangan diulangi lagi. SMAW bukan Tuhan, bro. Untungnya satu setengah jam penuh tawa kemudian kami tiba di Ranu Pane. Dari sini kami benar-benar keluar dari peradaban. Tanpa sinyal, tanpa suplai listrik dari PLN, tanpa WC duduk yang nyaman. Dan dari sini semuanya ditempuh dengan kaki.

500 meter kemudian, semua orang mendadak membenci Yoga ketika dia tiba-tiba berbelok ke kiri—kurang lebih begitu kata Rayvan, tapi seperti biasa, Rayvan suka menggeneralisir. Perjalanan naik turun—jauh lebih banyak naiknya—terus dilalui, sampai kira-kira lima jam kemudian para pejuang akhirnya mencapai Ranu Kumbolo dengan Vicky membawa kambing, Sadis membawa sebungkus LA Menthol, dan Rayvan membawa kaki keram. Di titik ini jangan tanya carrier terasa beratnya seperti apa, bayangin aja, Ibu Dapur Nyoman sampai marah karena banyak asap rokok padahal ga ada yang merokok. Bingung kan. Tapi sudah jadi aturan tak tertulis kalau hanya ada dua orang yang tidak boleh dilawan, Pimpro Opick dan Ibu-Dapur-Nyoman-kalau-lagi-masak. FYI, beribu maaf, saya tidak bisa mengingat apa saja menu makan yang dihidangkan, karena yang terlintas di pikiran saya hanya bagaimana mendapatkan nasi putih sebanyak-banyaknya.

Hari ketiga, setelah sarapan dengan nasi gigih, kami mulai berangkat melanjutkan perjalanan. Belum apa-apa kami sudah dihadapkan dengan Tanjakan Cinta, yang konon katanya saat kita mendaki tidak boleh menoleh ke belakang jika ingin mendapat jodoh. Dengan inklinasi kurang lebih 60 derajat, carrier ini serasa ingin ditinggal di Ranu Kumbolo saja. Tapi kaleng Guinness ini harus sampai di Mahameru, jadi: sikat Lae! Tidak sampai setengah menanjak, tepat di belakang saya Bob batuk-batuk kayak udah mau muntah, dan saya menoleh ke belakang. Jadi kalau saya ga dapat jodoh, ini semua salah Bob. Setelah Tanjakan Cinta berhasil dilewati, terlihat padang rumput yang luas, penuh bunga-bunga gunung. Dan disinilah pose Ikhsan bersama kumpulan bunga lavender yang tersohor itu diambil, Oro-oro Ombo.

Sekitar pukul 3 sore kami tiba di Kalimati, pos yang tepat berada di kaki gunung. Dengan tubuh yang sudah kelelahan, saya membuat kesalahan ketika perjalanan dari Ranu Kumbolo ke Kalimati: berjanji mengambil air di sumber air gunung. Jarak tempuh dari kamp cukup jauh dan medan yang dilalui sangat berbahaya. Tetapi disini saya menyaksikan mukjizat: sementara saya hanya bermodalkan tiga botol air minum 1,5 liter, Erpinus berangkat dengan membawa jerigen! Sudah sampai di sumber air, dia boker pula. Kurang strong apa lagi coba. Belakangan kami diberitahu bahwa sumber air itu merupakan tempat yang biasa dikunjungi harimau, macan tutul, dan hewan-hewan gunung yang ingin minum. Lucu aja sih ngebayangin sang gelandang pengangkut air Erpinus lagi enak-enaknya boker terus ada macan tutul nongol. Dan di Kalimati ini pula Rangga diresmikan sebagai Pembantu Umum, Randi boker tiga kali, dan untuk pertama kalinya saya tidak bisa menghabiskan tiga piring nasi.

Tepat tengah malam, kami bergerak. This is it chaps, summit attack! Dipimpin oleh Izar, barisan cahaya dari headlight dan senter kami perlahan menyusur punggung gunung Semeru. Medan yang ditempuh kali ini jauh lebih berat dari hari-hari sebelumnya. Sampai di Arcopodo, carrier yang saya bawa akhirnya saya percayakan pada Ikhsan yang terus-menerus dengan tanpa hentinya merengek untuk membawakannya. Pendakian kembali dilanjutkan. Lewat Arcopodo, medan yang kami hadapi lebih gila lagi. Jalur sempit berpasir dengan kemiringan yang cukup curam ditambah angin malam yang dingin sudah menanti. Counterpain Suselo cukup berguna disini.

Tapi belum apa-apa si Ikhsan kembali menyerahkan carrier pusaka tim kepada saya. Si Ikhsan ini memang lemah. Baiklah Nak, kalau itu memang maumu, akan kutunjukkan seperti apa jiwa laki: bukan pengecut! Pendakian kembali dilanjutkan. Semakin tinggi semakin banyak batu-batu yang tergeletak di jalur pendakian dan dapat menggelinding kapan saja. Kaki semakin berat untuk melangkah; pasir di bawah seperti memaksa para pendaki untuk turun, tidak boleh mencapai puncak. Dalam kondisi ini semua merasa lelah dan tertekan. Dan di tengah sunyinya malam dan riuh-pikuknya suara Agri memberi petunjuk jalur, akhirnya Rayvan mengucapkan kata-katanya yang terkenal itu: “Diam kamu, Agri!”

Tiga perempat perjalanan, giliran Yoga yang merengek minta membawakan carrier. Baiklah Nak, kalau itu memang maumu. Pendakian pun dilanjutkan. Biarpun tanpa carrier, kaki semakin lama semakin terasa berat untuk mendaki. Ini soal tekad dan kemauan.

Akhirnya sekitar pukul setengah enam saya sampai di puncak Mahameru. Dan semua kekonyolan dari Bandung terbawa naik lalu lenyap disini. “Siapa kamu hingga berani-beraninya mencoba menaklukkanku?” kata Semeru.

 

Hahaha, benar juga. Perasaan pertama yang muncul bukanlah euforia kemenangan dan tawa lebar seperti yang awalnya saya bayangkan. Hanya tamparan keras, bahwa ternyata kita sedemikian kecilnya dan Tuhan begitu besarnya. “Maafkan kesombongan saya.”

“Belajarlah, Anak Muda, belajarlah,” balasnya.

Benar kesan saya dulu waktu SMA, Semeru bukan tempat yang segitu indahnya seperti yang digambarkan di buku itu. Tapi ada banyak pelajaran diatas sana: belajar menjadi pecinta alam, bukan cuma penikmat alam; belajar menerima diri sendiri dan diri sahabat; belajar arti kehidupan yang—kalau kata Soe Hok Gie—tak satu setan pun tahu. Dan semua pelajaran itu terbungkus dalam bentuk-bentuk yang aneh, seperti “satu juta meter kubik per detik”, nasi gigih, serta—tentu saja—Pevita. Resep, euy! Haha.

Advertisements

2 comments

    • Mard Evan

      Harusnya ini waiting list buat tanggal 29, tapi ntar jadi nggak tepat dua tahun san haha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s