Welcome, Summer!

… the important thing is to get under way with your decision. Do not fly so high with your decision that you forget that a decision is but a beginning.

Sorry Søren, I stole your words again.

Ah, today is holiday. Better yet, it is the beginning of a belated summer. I was a bit slow to realize what holiday today is. Nonetheless, I somehow decided to write this one in Indonesian (mind you, though, it has been a very long time since I last wrote in Indonesian).

Dengan menggenggam sebotol susu di tangan kanan, seorang bocah berjalan kesana-kemari dengan riang. Dia baru saja menemukan sebuah permen karet yang menempel di sol sepatunya ketika tiba-tiba lewat seseorang dengan pakaian putih bersih sambil membawa semacam instrumen aneh yang terbuat dari kayu.

“Mau ke mana, Om?” tanya anak kecil itu iseng.

Dia tersenyum sesaat sambil memandang muka polos si bocah. “Mau naik. Ke langit.”

“Serius?”

“Iya, nggak percaya?” Tiba-tiba dia naik ke langit. Kemudian turun lagi. Kemudian mengajak anak itu dengan nada yang sangat bersahabat, “Ikut ke atas yok?”

“Woah, mau dong!”

Mereka mulai beranjak naik. Selangkah, dua langkah, tiga langkah. “Ah, bosan. Aku turun.”

Lalu diantarkan anak itu kembali menjejak tanah. “Dagh.” kata si bocah, bahkan mukanya tidak dipalingkan ke arahnya! “Kalau mau naik lagi kesini aja ya!” katanya.

Beberapa bulan kemudian anak tersebut kembali ingin naik ke langit. Berjalanlah si bocah ke tempat mereka bertemu. Dia masih di situ. Begitu terlihat, si bocah langsung buru-buru mencium pipinya sambil berkata dengan muka memelas, “Ikut naik lagi ya!”

“Yakin?” tanyanya, walaupun hanya untuk memecah suasana.

“Iya.”

Kembali, mereka mulai beranjak naik. Selangkah, dua langkah, tiga langkah, empat langkah. “Ah, bosan. Di bawah jauh lebih seru.”

Kali ini bahkan tidak ada ‘dagh’ yang keluar dari mulut si bocah. “Nanti kalau mau naik lagi kesini aja ya!” Antusiasmenya masih menyala.

Beberapa tahun kemudian anak itu telah bertumbuh dewasa, tetapi botol susu itu tetap dibawa kemana-mana. Berjalan perlahan ke tempat mereka bertemu, si bocah bahkan tidak ingat lagi seperti apa muka orang itu. “Masihkah orang itu ada di situ?” pikirnya.

“Oi, bocah, mau naik?” kata orang itu sambil tersenyum ramah.

Oh, the unconditional and the eternal.

In commemorating the Ascension of Christ,

Mard

Advertisements

3 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s