Eternity, the Reason Why

Oke, di post kedua ini gw mau cerita tentang asal-muasal dibuatnya blog ini, karena semua hal yang ada di dunia ini pasti punya latar belakangnya masing2, ya gak? Well, ide buat bikin blog sebenernya udah ada di otak dari tahun 2008, tapi waktu itu gw masih keranjingan ama yg namanya game online, jadi pas connect ke internet, gw bukannya ngetik http://wordpress.com trus klik “Sign up for a new blog”, tapi malah nyasar ke server2 game online. Pendek kata, tahun 2008 pun berlalu tanpa bikin blog, datanglah tahun 2009 yang sibuk. Sebagai anak kelas 3 SMA yang baik, pastinya gw mesti bener2 konsen ke dua hal penting: UAN sama Perguruan Tinggi. Dari bulan Januari sampe April itu bener2 sama sekali gak ada kesempatan buat ngapa-ngapain selain belajar, makan, tidur, UKM (urusan kamar mandi hahaa lol), dan kembali belajar.

Nah, baru pas akhir April kemarin gw bisa menghirup udara bebas. UAN udah kelar, gw jg udah diterima di salah satu institut teknologi negeri di Bandung (eh emang cuma satu ya?wkwkwk). Yeah, akhirnya datang juga nih temen lama gw: si waktu luang. Bayangin aja dari Mei sampai Juli temen lama gw itu bakalan ngunjungin gw. Seru! Gw udah bikin agenda “apa yang bakalan gw lakukan pada liburan kali ini”. Di puncak daftar agenda gw ada “main futsal sampe kaki gempor”. Di posisi runner-up ada “begadang sambil main kartu n nonton Champions League bareng temen2”. Di posisi ketiga ada ”main winning eleven”. Banyak hal yang udah gw rencanain,sampe hal2 kayak “belajar buat TPB” juga masuk list, walaupun gw gak tau bakalan gw realisasiin atau nggak. Tapi anehnya, sama sekali gak ada pikiran buat ngisi liburan panjang ini dengan nulis blog. Padahal udah dari lama banget gw pengen masuk ke dalam blogosphere (dunianya blogger), cuma gak pernah kesampean. Nah sekarang giliran ada kesempatan, kagak dimanfaatin buat nulis blog -.-“.

***

nyeeternity_gallery__600x395

Sampe suatu malam, gw lupa persisnya tanggal berapa (yang jelas sekitar tanggal 10-an Mei 09), gw lagi asik browsing sambil chat. Terus gw nyasar ke suatu situs, yg nunjukin sebuah foto kota Sydney, New South Wales, tepatnya foto Sydney Harbour Bridge. Buat yang belom pernah ke Sydney (halahh kayak lo udah pernah ke sana aja Mard!), Sydney Harbour Bridge itu adalah ikon kota Sydney, sebuah jembatan melengkung panjang yang terbuat dari baja bersusun, dan merupakan jantung lalu-lintas kota Sydney karena terletak di Sydney’s Port Jackson Central Business District. Persis di sebelahnya itu ada Gedung Opera Sydney yang terkenal seantero jagad karena bentuknya yang khas, IMHO kayak bawang bombay nyokap gw yang diiris-iris. Nah, foto yang gw liat itu, keren abis. Di foto itu ada wajah Sydney Harbour Bridge pas malam pergantian hari sekaligus tahun sekaligus dekade sekaligus abad sekaligus millenium. Yap, tanggal 01 Januari 2000 AD pukul 00.00 waktu setempat. Gila keren banget tu jembatan pas 1999-2000 New Year’s Eve, kayak lagi dimandiin cahaya di sana-sini, dari ujung utara di Milsons Point, North Shore sampe ujung selatan di Millers Point, Central Business District. Tapi ada satu hal yang paling mencolok dari Sydney Harbour Bridge di malam itu: tulisan “Eternity” yang ditulis dengan gaya tulisan tangan, bersambung rapi, berkilau keemasan di tengah gelapnya malam pergantian millenium, melintang dengan indah diatas dinginnya perairan Samudra Pasifik. Gw bener2 takjub ngeliat tulisan itu, apalagi ditambah dengan latar belakang ledakan kembang api akhir tahun. Wow! Coba gw bisa ngeliat langsung, pasti lebih keren lagi.

Tiba2 dua pertanyaan melintas di otak gw: “itu tulisan maksudnya apa ya? Siapa yang ngasih ide buat majang tulisan itu di Sydney Harbour Bridge?” Berhubung gw ini orangnya curious (no vomiting please B-)), gw langsung nanya ke sodara sepupu gw, wikipedia (http://en.wikipedia.org). Gak banyak yang bisa gw korek dari sepupu gw ini tentang maksud dan latar belakang tulisan “Eternity” itu, kecuali satu hal: “… in honour of Arthur Stace.” Siapa pula Arthur Stace ni?

So gw cari info tentang manusia Sydney yang namanya Arthur Stace ini. Setelah googling selama beberapa menit, finally gw dapet sebuah kisah menarik (yang pada akhirnya nginpirasiin gw buat mulai menulis blog ini). Ceritanya gini:

Arthur Malcolm Stace dilahirkan di perkampungan kumuh Balmain, Sydney, pada tanggal 9 Februari 1884. Bokap-nyokapnya alkoholik, dan so pasti Arthur muda dibesarkan dalam atmosfer kemiskinan, tanpa kasih sayang yang cukup dari kedua orang tuanya. Masa kecilnya banyak dihabiskan dengan mencuri roti dan susu, dan mengais2 makanan sisa di tong sampah. Arthur muda hampir gak pernah sekolah. Menginjak masa remaja, Arthur berubah menjadi alkoholik berat, dan pada umur 15 dia masuk penjara (gw gak dapet info gara2 apa dia dipenjarain). Keluar dari penjara, dia bekerja sebagai seorang “look-out cockatoo” atau mata2 yang dibayar polisi buat ngawasin tempat judi ilegal. Umur 20 tahun dia ganti pekerjaan: jadi pencari PSK buat rumah bordil sodaranya di Surry Hills.

Yah, begitu parahnya hidup almarhum, sampai pada suatu malam di bulan Agustus 1930 (FYI, ada sumber yang nulis 1932) dia berjalan masuk ke dalam Gereja Anglikan St. Barnabas di Broadway, Sydney. Pada malam itu, di gereja tersebut, sedang berkhotbah Reverend Hammond (lagi2, ada beberapa versi tentang nama Rev. Hammond ini, ada sumber yang nulis “R. B. S. Hammond”, ada yang nulis “R. D. S. Hammond”, ada juga yang nulis “T. C. Hammond”). Sehabis almarhum mendengar khotbah Rev. Hammond dan berjalan ke luar gereja, almarhum langsung mengakui, kalo selama ini hidup yang dia jalanin itu salah, kalo selama ini dia itu seorang pendosa. Tanpa pikir panjang, ia langsung berjalan ke arah Victoria Park, dan sembari duduk di bawah sebuah pohon ara yang besar, almarhum mengakui dosa2nya selama ini dan menerima Yesus Kristus sebagai penebusnya. Segera sesudah itu, dia merasakan damai sejahtera berdiam dalam dirinya. Dia telah menjadi manusia baru.

Dua tahun berselang, pada Minggu malam tanggal 14 November 1932, Arthur yang kini berusia 48 tahun sedang duduk tenang di dalam Burton Street Baptist Tabernacle di salah satu sudut Palmer Street, Darlinghurst, ketika dia mendengar Evangelist John G. Ridley berkhotbah “The Echoes of Eternity” yang terambil dari Kitab Yesaya 57 ayat 15: “For thus saith the high and lofty One that inhabiteth ETERNITY, whose name is Holy; I dwell in the high and holy place, with him also that is of a contrite and humble spirit, to revive the spirit of the humble, and to revive the heart of the contrite ones.” Entah mengapa, Ev. Ridley begitu menekankan kata “Eternity”. Tiba2 Ev. Ridley mengesampingkan naskah garis besar khotbah yang sudah dipersiapkannya, dan mulai berseru secara spontan, “Eternity! Eternity! I wish that I could sound or shout that word to everyone in the streets of Sydney. You’ve got to meet it, where will you spend Eternity?”

Ketika diwawancarai pada suatu kesempatan di bulan Juni 1956, Arthur Stace berkata, “Eternity went ringing through my brain and suddenly I began crying and felt a powerful call from the Lord to write Eternity.” Walaupun almarhum Stace buta huruf dan bahkan kesulitan dalam mengeja namanya sendiri, beliau dapat mengeja “Eternity”, yang menurutnya muncul dengan mulus ke dalam pikirannya, dalam bentuk tulisan copperplate yang indah. Dia sendiri bahkan tidak bisa menjelaskan kenapa bisa begitu. Dan di setiap pagi buta sepanjang 35 tahun berikutnya, ketika Sydney sedang tertidur lelap, Arthur berangkat dari rumahnya di Bulwarra Road, Pyrmont, berkeliaran di jalanan kota Sydney yang lengang dengan bersenjatakan kapur tulis berwarna kuning di tangannya, untuk menuliskan sebuah kata yang penuh makna: “Eternity”, di trotoar jalan, di pintu masuk stasiun, bahkan di lonceng menara The General Post Office setinggi puluhan meter (FYI, diperkirakan Pak Arthur telah menulis kata “Eternity” sebanyak 500.000 kali selama kurun waktu 35 tahun tersebut).

312492

***

Phew! Abis baca kisah hidupnya Mr. Stace, jujur gw jadi gak ngerti. Gak ngerti sama sesosok manusia Sydney bernama Arthur Malcolm Stace. Bayangin aja, Mr. Stace sudah nulis satu2nya kata yang bisa diejanya sebanyak 500.000 kali, buat ngingetin semua Sydneysiders tentang “Eternity”, atau “Keabadian” dalam bahasa Indonesia. Bangun jam 4 pagi, mengendap2 tanpa sepengetahuan istrinya, Pearl Stace, cuma untuk ngelakuin sesuatu yang gak ngasih dollar buat dirinya sendiri yang notabene hidup serba berkekurangan, tapi ngasih manfaat buat Sydneysiders yang lain. Apaan coba maksudnya? Kenapa gak jual narkoba aja, ato jual minuman keras, ato ngerampok, ato ngapainlah yang at least ngasih tambahan duit buat menyambung hidup. Kenapa gak tidur2an aja, ato berjudi, ato mabok2an, ato ngapain ajalah selama masih di bawah bendera “having fun”. Ini kok malah keliaran di jalanan (FYI suhu di jalanan Sydney pas jam 4 pagi itu bisa nyentuh 6 derajat Celsius, 10 derajat lebih dingin dari suhu minimum AC yang biasa dipasang di rumah2 kita). Orang bego mana seh yang mau mondar-mandir di jalanan pagi2 buta sambil nyorat-nyoret trotoar?

Untuk sementara gw kebingungan, kebingungan nyaritau alasan kenapa Mr. Stace nyorat-nyoret trotoar ama pintu masuk stasiun. Kenapa coba? Well, setelah mikir beberapa lama, gw akhirnya menyimpulkan bahwa ada satu, dan cuma ada satu, alasan yang masuk akal kenapa Mr. Stace mau ngelakuin itu semua. Dan alasan itu, ternyata, tersulam rapi di balik satu2nya kata yang bisa dieja oleh lidah kecilnya secara sempurna, tersimpan aman dalam satu2nya kata yang bisa ditulis oleh jemari keriputnya secara indah. “Eternity”. Yap, itulah alasan kenapa dia mau merelakan 1-2 jam dari 24 jam waktu yang dia punya setiap hari. Yap, itu pula alasan kenapa dia mau merelakan tubuh raganya digerogoti dinginnya jalanan kota Sydney. Karena dia mau ngelakuin sesuatu yang “eternal”, yang “abadi”.

Sontak gw ngerasa kayak disetrum listrik ribuan volt. Coba bayangkan, orang yang kagak pernah sekolah, nulis2 “Eternity” pake kapur tulis, buat ngingetin Sydneysiders pas mereka besok bangun dan berlalu-lalang di jalanan, kalo sebenernya ada hal yang jauh lebih penting dari sekedar numpuk duit, beli SUV, surfing di Bali, tidur di hotel bintang 5, etc. Sungguh suatu perbuatan besar. Geez, gw yang udah bisa baca tulis dari 13 tahun yang lalu aja sampe sekarang belum pernah ngelakuin hal besar kayak gitu. Dan hebatnya lagi, sama sekali gak ada inisial, nama, atau apa pun yang berhubungan dengan jati diri Arthur Stace tercantum di dalam graffiti-nya. Motifnya Mr. Stace murni, bener2 cuma mau ngingetin Sydneysiders soal “Keabadian”, gak ada tujuan buat nyari popularitas, apalagi nyari sensasi.

Gw dibuat sadar sama Almarhum Stace kalo dollar (ato rupiah, ato euro, ato yen, ato mata uang lain) itu gak abadi. Gw juga dibuat sadar kalo kesenangan yang didapat dari main winning eleven itu gak abadi. Ya bukan berarti punya duit itu salah, bukan juga main winning eleven itu dosa. Yang jadi poin gw disini, poin yang gw dapet dari beliau, adalah jangan sampe lo menjadikan lembaran dollar ato winning eleven ato bola futsal ato semua hal yang gak abadi sebagai tujuan hidup lo. Perlakukan mereka sewajarnya aja lah, jangan “didewakan”. Mereka bahkan gak bisa bilang “i love you” ke lo. Waktu Mr. Stace masih muda, dia sampe mencuri roti ama susu, kerja di rumah bordil, cuma buat hal2 yang gak abadi. Namun, setelah dia ngerti tentang konsep “Eternity”, dia gak lagi mengutamakan hal2 yang gak abadi, tapi dia banting stir, mengutamakan hal2 yang abadi. Dan pesan “Eternity” yang dibawa oleh Mr. Stace ini menghantam keras, telak ke dada gw. Sungguh satu kata yang bener2 bikin mata gw terbuka lagi. Satu kata yang bener2 ampuh dalam memaknai hidup gw, dan mungkin hidup temen2 juga.

So gw mutusin buat mengisi dan memaknai hidup gw dengan hal2 yang abadi juga, sama kayak Mr. Stace. Tapi sampe di titik ini, gw masih belom tau mesti ngapain. Gak mungkin kan gw ngikutin caranya Mr. Stace, keluar rumah pagi2 trus bikin graffiti “Eternity” di trotoar, di halte bus, atau di tembok sekolah? Yang ada gw malah masuk sel tahanan atas tuduhan perusakan properti. Jadi mesti gimana? Nah lhooo, tiba2 aja ide itu muncul lagi. Ide yang mana Mard? Itu lho, ide yang udah kepikiran dari tahun 2008 tapi anehnya akhir2 ini gak kepikiran lagi. Ide buat bikin blog muncul lagi di otak gw yang baru aja dicuci ama Mr. Stace. Gak tau malaikat mana yang nekan saklar otak gw, tapi kok timingnya pas banget ya? Mumpung lagi liburan panjang (3 bulan jadi pengangguran), gw mutusin buat ngisi liburan gw dengan mencorat-coret “Eternity” juga, tapi di dunia maya. Yah boleh dibilang (berusaha) ngelanjutin perjuangannya Mr. Stace lah, hehee.

THANK YOU, MR. STACE, FOR YOU HAD LIVED TO TELL! YOUR GRAFFITI MIGHT BE DECAYED BY THE ROLL OF TIME, BUT YOUR FAITHFUL AND DEDICATED EFFORTS HAD SENT AN INSPIRATIONAL MESSAGE TO PEOPLE WORLDWIDE, AN ETERNAL ONE.

P.S.: Waktu gw liat fotonya Mr. Stace, gw perhatiin baik2 wajah beliau. Di fotonya itu, beliau lagi tersenyum, keliatannya beliau ngerasa damaaai bangett. Trus pas nulis post ini tiba2 gw ngerasa, kali aja sekarang beliau di atas sana lagi tersenyum damai dalam “Keabadian” yang didambakannya :).

~ scaramouchemard at May 19 2009 0612 GMT+8.

Advertisements

5 comments

  1. bernaaa !

    weseh pnjang bgd matt! kagak cpek ngetikny? tp keren eh,filsuf mmg dirimu. tmbhn dong postingny soal khdupan cinta dgn tittt! hahahaks

    • mevancfc

      kagak lah,kan udah biasa nyangkul di ladang..hahaha.
      posting kehidupan cinta?ahaha sama pohon beringin gitu maksudnya?

  2. Mard Evan

    Reblogged this on The Cruising Battleship and commented:

    Nggak terasa blog ini udah berusia 7 tahun—dan saya ketawa juga setelah nyadar bahwa ini entry pertamanya.

    Saya tertawa kecil karena ketika saya lihat lagi ke belakang, saya merasa lucu aja dengan ironi yaitu saya yang pernah capek-capek mencari jawaban “Kenapa?” sampai akhirnya memutuskan untuk menjawarakan Voltaire ini (https://answers.yahoo.com/question/index?qid=20111114201539AA7kmOb) ternyata sudah mengerti dari awal. Ini lucunya kayak orang yang order delivery pizza terus setelah ganti pesanan 5 kali karena plin-plan nentuin topping akhirnya nungguin lama dan abang delivery-nya nggak dateng-dateng dan di titik itu dia nyadar kalau ternyata dia salah satu abang delivery juga (“Oiya, kan gua lagi on duty ya”).

    Kebetulan malam ini teringat almarhum teman yang suka memandangi langit malam juga. Ya, memang ternyata sedikit sekali yang kita tau tentang hidup. “Kenapa?”, “Kok begitu?”, “Kenapa bukan saya aja?”, “Kenapa harus sekarang?”, “Kok gini banget sih?”, “Emangnya kenapa kalo aku nggak mau?”, “Terus apa esensinya?”, “Udah gini doang?”, dan lain sebagainya. Tapi saya percaya ada Alasan di balik ini semua. Dan Alasan itu hanya bisa dipandang tête-à-tête, dari dekat, dalam sebuah hubungan personal yang satu kakinya berada di alam mortal, dan satu lagi di kekekalan—Eternity, the ultimate why.

    In memoriam Rudi Rauf.
    Rest in peace, my friend.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s